Haloscan commenting and trackback have been added to this blog.
Friday, September 24, 2004
Thursday, April 08, 2004
Kisah dalam secangkir kopi
Pada suatu pagi di sudut stasiun beberapa laki berjajar. Masing-masing menggenggam tiga keping koin logam. Satu keping seratusan dan dua sepuluhan. Mereka menunggu giliran di depan vending machine penjual kopi kalengan. Tubuh mereka berbaris rapi dibalut stelan jas khas pekerja, tapi pikiran mereka tampak masih mengawang-awang. Mereka jelas butuh kopi. Di sini kopi adalah obat anti ngantuk. Maka efek akhirlah yang utama. Kopi pun dikemas dalam kaleng-kaleng kecil yang habis dalam tujuh kali teguk. Dan dipasarkan dengan slogan kultur instant kemachoan. Semakin keras kadar kaffeinnya maka semakin macholah peminumnya. Akibatnya rasa jadi tidak terlalu penting, apalagi proses peramuan. Satu hal yang mungkin tidak terpikirkan di...
kafe-kafe teras tepi jalan, ratusan ribu kilometer ke barat dan utara di satu sudut kota kecil, tempat para filsuf konon duduk menyepi. Menyelami pikiran dan kompleksitas sebuah entiti sambil menunggu datangnya kopi pagi. Di sini kopi dimaknai sebagai proses. Layaknya proses permenungan filosofis yang berlangsung dalam pikiran peminumnya, secangkir kopi adalah hasil ramuan dari proses yang ditekuni secara turun temurun. Setua proses adat yang berlangsung...
enam puluh ribu mil ke arah tenggara di pulau terpencil di tengah danau. Tempat di mana kopi dituang dalam tapak-tapak piring kecil untuk memulai sebuah diskusi adapt di rumah tua berlantai tinggi. Di tempat ini, pada malam-malam panjang ketika babi-babi di lantai dasar lelap tertidur, diskusi-diskusi adat pun dimulai. Dari masalah sepele pembagian warisan adat hingga pemilihan penatua adat. Di sini kopi jadi teman demokrasi. Suara terbanyaklah yang menang, walau tak jarang posisi adat dan suara terkeraslah yang menang. Semua bisa bermula dari proses ini. Perkawinan atau perceraian. Persaudaraan atau sakit hati, sengketa atau damai, walau mungkin tak selevel dengan...
damainya dua pendukung fanatik tim sepakbola, pada sebuah warung indomie di persimpangan jalan, dua ribu lima ratus kilometer ke selatan di seberang selat. Pada sebuah kota tempat orang-orang muda pilihan berpura-pura belajar di pagi hari, bermain di siangnya dan bertaruh bola pada malam-malamnya. Di sini kopi adalah upeti. Jadi satu dengan indomie rebus bertinta merah, telur, kornet dan kerupuk kuning, paket lengkap taruhan sebuah pertandingan sepakbola antara dua teman, yang pertemanannya mungkin...
bisa dimaknai berbeda bila itu terjadi di warung-warung kopi bermusik merengge di sekitar hacienda, beratus ribu mil ke barat di seberang samudra di sebuah negeri pegunungan kecil yang hijau. Di sini kopi berarti cerita. Dan ngopi jadi ajang interaksi sosial berbagi cerita. Teman ngopi pun berarti teman berbagi cerita dan keluh kesah. Maka untuk mencairkan kebekuan dicampurlah kopi dengan secangkir kecil rum manis, membentuk coffee-rica. Walau sekilas terkesan kontradiktif. Bukankah kafein pada kopi merangsang saraf kesadaran sedangkan alkohol pada rum justru bekerja sebaliknya. Tapi toh tak banyak yang protes, karena di sini orang tak suka berpikir yang rumit-rumit...
karena itulah tak ada yang paham mengapa pilihan pada secangkir kopi jadi begitu kompleks, lima ribu mil ke utara. Tempat orang-orang berbadan besar hidup. Di mana kopi-kopi dijual dalam cangkir-cangkir stereoform putih dan pilihan kopi pun jadi sangat rumit. Dekaf, cappuccino,latte, extra-latte, mocha, strong, expresso. Belum lagi pilihan ukuran: small,medium,regular, large, extra large yang selalu diiming-imingi diskon pada setiap tambahan porsinya. Di sini kopi jadi pilihan yang terpetakan. Terpetakan oleh segmentasi pasar dalam strategi kampanye pemasaran. Di mana setiap pilihan sudah menjadi standar-baku yang dinamai dan ramuan hasil spontanitas justru jadi satu keanehan.
Tak seperti di sini, lantai lima sebuah gedung tempat semuanya bermula. Di mana kopi berarti pagi. Dan pagi berarti hari. Layaknya rasa yang kaya dalam ramuan secangkir kopi, demikian pula ramainya pilihan kisah tak terduga yang mungkin terjadi dalam sebuah hari.
Saturday, March 20, 2004
Monologue
You know, more and more I think that for many years I looked at life like a case at law, a series of proofs... When you're young you prove how brave you are, or smart; then, what a good lover; then, a good father; finally, how wise, or powerful or what-the-hell-ever. But underlying it all, I see now, there was a presumption. That I was moving on an upward path toward some elevation, where...God knows what...I would be justified, or even condemned...a verdict anyway. I think now that my disaster really began when I looked up one day...and the bench was empty.
The truth is that every morning when I awake, I'm full of hope! With everything I know... I open up my eyes... I'm like a boy. For an instant there's some...unformed promise in the air. I jump out of bed, I shave, I can't wait to finish breakfast...and then, it seeps in my room, my life and its pointlessness. And I thought...if I could corner that hope, find what it consists of and either kill it for a lie, or really make it mine...
...
Friday, March 19, 2004
Fallibilism, Friendster dan Folitik *)
Suatu hari di tengah kesibukan berkomuter satu fertanyaan iseng melintas di benak saya: Afa ferbedaan kamfanye fartai folitik dan jaringan fertemanan Friendster? Toh dua-duanya sama-sama fasang foto. Jelas ini fertanyaan konyol. Banyak bedanya! Namun ada satu beda yang faling jelas. Kalau di Friendster umumnya orang memberi kesaksian yang baik tentang orang lain (walau banyak yang hanya kenal sekilas), maka fada kamfanye orang memberi kesaksian yang baik hanya tentang diri sendiri sambil menjelekkan orang lain. Karena itulah tak banyak yang mengerti startegi kamfanye John Edwards, calon kandidat fresident fartai demokrat amerika yang memilih untuk setia fada strategi kamfanye fositifnya.
Salahkah strategi John Edwards? Tentu salah jika kita berfikir dalam kerangka-fikir folitikus. Namun tidak salah, jika kerangka-fikir filosofislah yang difakai. Karena sistem folitik demokrasi sesungguhnya bertumfu fada suatu fandangan filsafat Yunani yang disebut fallibilism, yaitu fengandaian final bahwa manusia adalah makhluk yang ditakdirkan untuk berbuat salah. Jadi tidak ada yang salah dalam filosofi demokrasi. Yang ada hanyalah fandangan alternatif. Jadi mungkin startegi John Edwards hanya satu dari fandangan alternatif.
Kendati terdengar faradoksial, namun di balik fengakuan 'kesalahan' itu munculah suatu oftimisme bahwa manusia dafat berkembang dengan belajar dari kesalahannya. Dan hanya dalam sistem demokrasilah hal ini dimungkinkan untuk berjalan secara normal. Kesalahan diterima sebagai hakekat manusia, dan karena itu setiaf ufaya femutlakkan kebenaran justru bertentangan dengan tujuan demokrasi. Fenunggalan fendafat berarti fenguasaan kebenaran, dan fenguasaan kebenaran yang dilekatkan fada folitik, jadi fenguasaan folitik. Bahwa kesalahan adalah tendensi kekuasaan, dengan sendirinya melahirkan frinsif fenandingnya, yaitu bahwa klaim kebenaran harus dafat dibantah.
Karena itulah saya tidak mengerti fosisi fartai folitik beraliran agama dalam sistem demokrasi, terlefas dari afa fun agamanya dan afa fun agama saya. Menurut saya, kehadiran mereka ibarat koin bersisi dua. Sisi yang satu berusaha berdemokrasi dengan meniadaan fenunggalan kebenaran. Sementara sisi yang lain, justru menunggalkan kebenaran. Bukankah kebenaran teologis yang dianut itu harus tunggal, karena ia harus menjamin keutuhan doktrinernya dan keteguhan fenganutnya dengan fatwa dan dogma? Dalam referensi teologis tidak ada fertandingan kebenaran, karena hal itu justru bertentangan dengan frinsif teologis. Jadi, bukan referensi teologisnya yang salah, melainkan femanfaatannya dalam demokrasi yang tidak tefat. Karena itulah memisahkan keduanya justru menghormati status masing-masing sistem kebenaran itu. Fallibilism mau memastikan bahwa kesalahan dan fenyimfangan merufakan fosibilitas tertinggi dari kekuasaan, dan oleh karena itu kritik harus menjadi fermanen dalam demokrasi
Kembali ke soal Friendster, sekedar jawaban kalau anda bertanya-tanya afakah foto di atas saya dafatkan dari jaringan Friendster. Jawabnya tidak. Dia adalah Alexandra Indrian Yunadi salah satu caleg dari FFIB. Walau tentu, jika ia bergabung dengan friendster banyak yang ingin menambahkannya dalam daftar teman. Tentu fula tak ada yang salah dengan itu.
*) Maaf, jelas ada yang salah dengan huruf 'fe' fada keyboard saya
Saturday, March 13, 2004
Wednesday, March 10, 2004
Bosaaaaaaaaan
Kalau rasa bosan menghampiri biasanya kata-kata jadi susah keluar. Mau kerja malas. Mau berpikir malas. Mau ke mana-mana juga malas. Hanya rasa bosan yang ada. Apalagi mau menulis, tidak ada ide yang keluar.
Saya pernah baca dalam satu artikel bahwa rasa bosan itu terkait dengan adrenalin yang tersimpan tak terpakai dalam tubuh manusia. Makin banyak adrenalin yang tak terpakai makin seringlah seseorang jadi bosan. Jadi bagi orang yang biasa terjebak dalam aktivitas rutin tanpa perlu membuang adrenalin, rasa bosan akan makin sering menyerang.
Ini mengingatkan saya pada satu cerita di majalah Time, beberapa tahun yang lalu. Terjadinya kasus pembajakan bis umum di daerah Hiroshima, Jepang. Ceritanya suatu pagi, seorang pria memaksa supir bis berpenumpang umum untuk berputar-putar keliling kota di bawah ancaman sepucuk pisau. Satu kota pun gempar. Berpuluh mobil polisi mengekor dari belakang dan helikopter dari udara. TV pun meliput secara langsung. Anehnya tanpa tuntutan uang tebusan atau lainnya di ujung malam bis pun berhenti dengan sendirinya dan si pembajak menyerah.
Dalam interview setelah pembajakan, si pria pembajak yang ternyata pegawai normal di sebuah kantor swasta menceritakan bahwa pembajakan tersebut hanya ide liar sesaat yang timbul akibat kebosanan dalam rutinitas hidupnya sehari-hari. Hanya itu. Tak ada motivasi lain. Ia pun bercerita betapa inginnya ia merasakan satu ketegangan. Menjadi bandit sesaat. Dikejar-kejar polisi seantero kota. Diliput tv secara langsung. Merasakan semua ketegangan memuncak sampai akhirnya di ujung malam, ia pun merasa bosan. Bosan dengan segala ketegangan yang tadinya ia cari dan memilih untuk kembali ke hidupnya semula. Aneh bukan.
Lalu seberapa bosankah saya? Hmm, kalau saya pakai ukuran si pria pembosan di Hiroshima mungkin sekarang saya sudah membajak pesawat ! Tapi toh tak semua orang percaya bahwa kebosanan itu terkait dengan adrenalin tak terpakai. Setidaknya, tidak seorang rekan. Menurut rekan saya yang suka sok berteori ini ada tiga pokok permasalahan kebosanan : orang yang membosankan, situasi yang membosankan dan orang yang terlalu sering bosan.
Menurutnya situasi yang membosankan tidak otomatis timbul karena orang-orangnya membosankan, tetapi mungkin juga akibat kesalahan dari beberapa orang yang terlalu sering menunjukan rasa bosannya. Masih menurut dia, rasa bosan itu sifatnya menular, jadi jangan sering-sering ditunjukkan karena pada gilirannya dapat membuat orang lain tertular bosan dan akhirnya suasana pun menjadi sangat membosankan.
Sebenarnya masih panjang cerita kategori kebosanan dan penyebabnya versi si teman yang membosankan itu. Di akhir teorinya yang membosankan ia pun mengklasifikasikan cara-cara menganggulangi kebosanan. Tapi terus terang saya bosan menulisnya. Dan lebih-lebih saya bosan dengan posting ini ! Huh!
Oke. Saya cabut dulu ke airport. Siapa tahu mungkin ada kru pesawat yang juga dilanda kebosanan, membiarkan pesawatnya tak terjaga.
Saturday, March 06, 2004
Realita Show
Dua kata yang sangat tidak klop untuk digabungkan. Bukankah show itu harus mengasikkan dan realita biasanya justru menjemukan? Misalkan maukah anda menonton siaran tv yang menayangkan realita hidup anda seutuhnya? Tentu tidak. Setidaknya saya tidak. Bukankah kita membeli tv, duduk di depannya dan memijat tombol di remotenya untuk memilih acara yang paling jauh dari realita kita. Atau setidaknya berpaling sejenak dari realita.
Karena itulah saya tidak ngeh dengan konsep dibalik acara realita show yang jadi ramai di tv akhir-akhir ini. Acara semacam ini menurut saya bermata dua. Mata yang satu menuntut untuk menampilkan realita yang sesungguhnya. Sementara mata yang lain berupaya mematut realita untuk tetap menarik bagi konsumsi penonton tv. Maka sebagai kompromi ditampilkanlah realita yang menarik sejauh apa pun itu dari realita yang sesungguhnya. Dan hasilnya adalah satu realita yang dipoles atau realita terstruktur.
Tapi tentu penonton tidak bodoh, kesetiaan penonton pada realita show hanya sejauh realita yang ditampilkan sejalan dengan realita yang diinginkan. Bila keduanya sudah tidak sejalan, maka jari pun bergerak memijit tombol saluran tv yang lain.
Saya teringat satu acara realita show di TV- Jepang beberapa waktu yang lalu. Namanya semacam "Love Bus". Jelasnya saya sudah lupa. Singkat cerita dalam bis berpenumpang 4 orang laki dan 3 perempuan yang dipilih secara acak dan gratis ini musti ada kisah cinta. Bis berjalan dari ujung selatan Chile menyusuri semenanjung amerika selatan dan sepanjang perjalanan yang diliput kamera tv ini, cinta lokasi memang biasanya terjadi. Mereka yang jatuh cinta pun dikenakan hukuman: kembali ke Tokyo, akhir dari liburan gratis dan digantikan oleh orang-orang baru.
Tapi skenario realita show yang sukses di episode-episode awal ini, jadi mentah ketika keinginan penonton untuk melihat cinta lokasi, berbenturan dengan keinginan beberapa pria lajang yang hanya ingin berlibur gratis. Mereka ini tak pernah jatuh cinta. Tidak dalam berpuluh episode. Tidak dari Peru hingga San Diego. Acara pun jadi basi dan jari penonton mulai bergerak memijat saluran yang lain.
Realita yang tadinya ditampilkan utuh apa adanya di episode awal pun, mulai dipoles. Dipotong sedikit demi sedikit untuk membuat klimaks akhir tetap menarik. Karena kadang realita itu memang tampak lebih menarik bila ditampilkan sedikit demi sedikit secara bertahap. Seperti halnya wanita seksi dibalut bikini yang kadang justru lebih menarik daripada ketika ia telanjang bulat... lat! Tapi toh ini tak menolong. Acara tak bertahan lama. Penonton mulai melupakannya, berpaling pada realita show lain yang lebih sejalan dengan realita yang mereka inginkan.
Hmm, sedianya ada yang ingin saya sampaikan dengan menulis panjang lebar tak keruan ini. Tapi terus terang saya jadi lupa. Apa pun itu tadinya, jelas telah hilang ditelan ratusan huruf dan kata mulai dari: show memijat, dipoles bikini, hingga klimaks dan telanjang bulat. Inilah, mungkin salah satu bagian dari realita tak terstruktur saya.