Thursday, April 08, 2004


Kisah dalam secangkir kopi

Pada suatu pagi di sudut stasiun beberapa laki berjajar. Masing-masing menggenggam tiga keping koin logam. Satu keping seratusan dan dua sepuluhan. Mereka menunggu giliran di depan vending machine penjual kopi kalengan. Tubuh mereka berbaris rapi dibalut stelan jas khas pekerja, tapi pikiran mereka tampak masih mengawang-awang. Mereka jelas butuh kopi. Di sini kopi adalah obat anti ngantuk. Maka efek akhirlah yang utama. Kopi pun dikemas dalam kaleng-kaleng kecil yang habis dalam tujuh kali teguk. Dan dipasarkan dengan slogan kultur instant kemachoan. Semakin keras kadar kaffeinnya maka semakin macholah peminumnya. Akibatnya rasa jadi tidak terlalu penting, apalagi proses peramuan. Satu hal yang mungkin tidak terpikirkan di...

kafe-kafe teras tepi jalan, ratusan ribu kilometer ke barat dan utara di satu sudut kota kecil, tempat para filsuf konon duduk menyepi. Menyelami pikiran dan kompleksitas sebuah entiti sambil menunggu datangnya kopi pagi. Di sini kopi dimaknai sebagai proses. Layaknya proses permenungan filosofis yang berlangsung dalam pikiran peminumnya, secangkir kopi adalah hasil ramuan dari proses yang ditekuni secara turun temurun. Setua proses adat yang berlangsung...

enam puluh ribu mil ke arah tenggara di pulau terpencil di tengah danau. Tempat di mana kopi dituang dalam tapak-tapak piring kecil untuk memulai sebuah diskusi adapt di rumah tua berlantai tinggi. Di tempat ini, pada malam-malam panjang ketika babi-babi di lantai dasar lelap tertidur, diskusi-diskusi adat pun dimulai. Dari masalah sepele pembagian warisan adat hingga pemilihan penatua adat. Di sini kopi jadi teman demokrasi. Suara terbanyaklah yang menang, walau tak jarang posisi adat dan suara terkeraslah yang menang. Semua bisa bermula dari proses ini. Perkawinan atau perceraian. Persaudaraan atau sakit hati, sengketa atau damai, walau mungkin tak selevel dengan...

damainya dua pendukung fanatik tim sepakbola, pada sebuah warung indomie di persimpangan jalan, dua ribu lima ratus kilometer ke selatan di seberang selat. Pada sebuah kota tempat orang-orang muda pilihan berpura-pura belajar di pagi hari, bermain di siangnya dan bertaruh bola pada malam-malamnya. Di sini kopi adalah upeti. Jadi satu dengan indomie rebus bertinta merah, telur, kornet dan kerupuk kuning, paket lengkap taruhan sebuah pertandingan sepakbola antara dua teman, yang pertemanannya mungkin...

bisa dimaknai berbeda bila itu terjadi di warung-warung kopi bermusik merengge di sekitar hacienda, beratus ribu mil ke barat di seberang samudra di sebuah negeri pegunungan kecil yang hijau. Di sini kopi berarti cerita. Dan ngopi jadi ajang interaksi sosial berbagi cerita. Teman ngopi pun berarti teman berbagi cerita dan keluh kesah. Maka untuk mencairkan kebekuan dicampurlah kopi dengan secangkir kecil rum manis, membentuk coffee-rica. Walau sekilas terkesan kontradiktif. Bukankah kafein pada kopi merangsang saraf kesadaran sedangkan alkohol pada rum justru bekerja sebaliknya. Tapi toh tak banyak yang protes, karena di sini orang tak suka berpikir yang rumit-rumit...

karena itulah tak ada yang paham mengapa pilihan pada secangkir kopi jadi begitu kompleks, lima ribu mil ke utara. Tempat orang-orang berbadan besar hidup. Di mana kopi-kopi dijual dalam cangkir-cangkir stereoform putih dan pilihan kopi pun jadi sangat rumit. Dekaf, cappuccino,latte, extra-latte, mocha, strong, expresso. Belum lagi pilihan ukuran: small,medium,regular, large, extra large yang selalu diiming-imingi diskon pada setiap tambahan porsinya. Di sini kopi jadi pilihan yang terpetakan. Terpetakan oleh segmentasi pasar dalam strategi kampanye pemasaran. Di mana setiap pilihan sudah menjadi standar-baku yang dinamai dan ramuan hasil spontanitas justru jadi satu keanehan.

Tak seperti di sini, lantai lima sebuah gedung tempat semuanya bermula. Di mana kopi berarti pagi. Dan pagi berarti hari. Layaknya rasa yang kaya dalam ramuan secangkir kopi, demikian pula ramainya pilihan kisah tak terduga yang mungkin terjadi dalam sebuah hari.