Saturday, March 06, 2004


Realita Show

Dua kata yang sangat tidak klop untuk digabungkan. Bukankah show itu harus mengasikkan dan realita biasanya justru menjemukan? Misalkan maukah anda menonton siaran tv yang menayangkan realita hidup anda seutuhnya? Tentu tidak. Setidaknya saya tidak. Bukankah kita membeli tv, duduk di depannya dan memijat tombol di remotenya untuk memilih acara yang paling jauh dari realita kita. Atau setidaknya berpaling sejenak dari realita.

Karena itulah saya tidak ngeh dengan konsep dibalik acara realita show yang jadi ramai di tv akhir-akhir ini. Acara semacam ini menurut saya bermata dua. Mata yang satu menuntut untuk menampilkan realita yang sesungguhnya. Sementara mata yang lain berupaya mematut realita untuk tetap menarik bagi konsumsi penonton tv. Maka sebagai kompromi ditampilkanlah realita yang menarik sejauh apa pun itu dari realita yang sesungguhnya. Dan hasilnya adalah satu realita yang dipoles atau realita terstruktur.

Tapi tentu penonton tidak bodoh, kesetiaan penonton pada realita show hanya sejauh realita yang ditampilkan sejalan dengan realita yang diinginkan. Bila keduanya sudah tidak sejalan, maka jari pun bergerak memijit tombol saluran tv yang lain.

Saya teringat satu acara realita show di TV- Jepang beberapa waktu yang lalu. Namanya semacam "Love Bus". Jelasnya saya sudah lupa. Singkat cerita dalam bis berpenumpang 4 orang laki dan 3 perempuan yang dipilih secara acak dan gratis ini musti ada kisah cinta. Bis berjalan dari ujung selatan Chile menyusuri semenanjung amerika selatan dan sepanjang perjalanan yang diliput kamera tv ini, cinta lokasi memang biasanya terjadi. Mereka yang jatuh cinta pun dikenakan hukuman: kembali ke Tokyo, akhir dari liburan gratis dan digantikan oleh orang-orang baru.

Tapi skenario realita show yang sukses di episode-episode awal ini, jadi mentah ketika keinginan penonton untuk melihat cinta lokasi, berbenturan dengan keinginan beberapa pria lajang yang hanya ingin berlibur gratis. Mereka ini tak pernah jatuh cinta. Tidak dalam berpuluh episode. Tidak dari Peru hingga San Diego. Acara pun jadi basi dan jari penonton mulai bergerak memijat saluran yang lain.

Realita yang tadinya ditampilkan utuh apa adanya di episode awal pun, mulai dipoles. Dipotong sedikit demi sedikit untuk membuat klimaks akhir tetap menarik. Karena kadang realita itu memang tampak lebih menarik bila ditampilkan sedikit demi sedikit secara bertahap. Seperti halnya wanita seksi dibalut bikini yang kadang justru lebih menarik daripada ketika ia telanjang bulat... lat! Tapi toh ini tak menolong. Acara tak bertahan lama. Penonton mulai melupakannya, berpaling pada realita show lain yang lebih sejalan dengan realita yang mereka inginkan.

Hmm, sedianya ada yang ingin saya sampaikan dengan menulis panjang lebar tak keruan ini. Tapi terus terang saya jadi lupa. Apa pun itu tadinya, jelas telah hilang ditelan ratusan huruf dan kata mulai dari: show memijat, dipoles bikini, hingga klimaks dan telanjang bulat. Inilah, mungkin salah satu bagian dari realita tak terstruktur saya.

Wednesday, March 03, 2004


William Who?

Namanya William Hung. Numpang top lewat produk TV American Idol 3. Suatu acara di mana pesertanya dituntut untuk memamerkan kebolehan menyanyi dan menari di depan kru tv dan pemandu bakat. Mirip-mirip Asia Bagus dulu tahun 90-an. Biasanya yang muncul ikut audisi adalah orang-orang dengan bakat dan kemampuan : nyanyi atau menari dengan rasa percaya diri yang tinggi. Penampilan juga satu hal utama. Namun Hung, yang mahasiswa teknik sipil UCLA Berkeley asli Hong-Kong ini, tidak punya satu pun dari daftar tersebut. Hmm,mungkin cuma rasa percaya diri yang tinggi. Kelewat tinggi bahkan. Sosoknya mirip tokoh geek yang culun pada film-film remaja yang selalu jadi bahan lelucon dari mereka yang lebih populer di sekolah.

Melihat penampilannya yang tidak memenuhi standar, jelas pihak AI-3 menolak. Ia gagal dalam audisi. Tapi kadang produk reject lebih laku daripada produk yang sukses. Dan cerita audisi yang diliput TV secara nasional itu jadi lebih popular daripada produk AI-lainnya. Cerita William Hung menjadi cover-story beberapa TV. Namanya pun tiba-tiba melejit dan banyak orang jadi peduli. Bahkan beberapa hari yang lalu nama William Hung menjadi keyword paling top di search engine Google.

Melihat Hung, beberapa orang pun protes. Pada beberapa blog milik orang asia timur, seperti di Singapore dan Hong-Kong namanya disebut-sebut sebagai aib. Mempermalukan orang asia. Beberapa blog bahkan mengecam Hung sebagai keledai bodoh yang diperalat pihak TV untuk dijadikan bahan lelucon. Tak jelas apakah benar pihak TV memperalat Hung atau Hung sendiri yang rela mempermalukan diri secara nasional. Yang mana pun itu yang jelas penonton TV tertawa, produser TV senang rating acaranya tinggi, dan Hung pun senang jadi populer. Bukankah memang itu tujuan dari show-biz.

Kalau kamu belum pernah melihat penampilan Hung, jelas tidak tahu apa yang saya bicarakan. Jadi silahkan lihat langsung di sini dan tafsirkan sendiri. Kalau saya sih, saya salut sama pe-de nya, jadi teringat jargon anak himpunan semasa kuliah dulu: Cuma anak sipil yang pe-de nya bisa segede ini. Hihi...