Saturday, February 28, 2004


Pensil patah dan kelahiran sebuah -ism



Apa yang terlintas dalam benak anda ketika melihat gambar di atas? Sebuah pensil patah. Kegagalan. Kemarahan. Kecelakaan. Pertanyaan asal muasal, sebab-akibat atau apa pun itu satu hal yang jelas, dengan memperhatikan gambar di atas anda telah tergerak untuk bertanya.

Sebuah pensil patah yang menawarkan pertanyaan: siapa yang mematahkan, sengajakah dipatahkan, lalu mengapa dipatahkan, adalah persoalan kausitas : sebab dan akibat. Dalam dunia kausitas pensil patah dipandang sebagai akibat. Karenanya penyebab menjadi fokus pertanyaan. Siapa, kapan dan mengapa. Apakah si upik yang nakal tak sengaja menjepitkan pensilnya ke meja, atau si abang yang tak kunjung bisa menjawab soal matematik jadi putus asa dan memilih untuk mematahkan pensil? Orang yang memilih untuk bertanya secara kausal memilih untuk melihat kondisi kini sebagai akibat dari aksi masa lalu dan mencoba memahami penyebab kondisi kini dengan berpaling pada masa lalu.

Sebaliknya sebuah pensil patah yang menawarkan pertanyaan: lalu pakai apa sekarang, menawarkan alternatif solusi masa depan tanpa memperdulikan kausitas masa lampau. Kekinian dipandang sebagai awal dan satu-satunya awal yang terwujud dalam kenyataan tanpa masa lalu.

Dalam istilah pensil-patah-ism, sebuah gambar kala kini menawarkan dua alternatif pandangan : akhir dari rangkaian peristiwa kausitas dengan kemungkian penyebab yang terbatas atau kelahiran rangkaian peristiwa baru tanpa masa lalu, dengan kemungkinan akibat masa depan jadi tak terbatas.

Apa pun itu. Pertanyaan pensil patah dapat dipakai untuk menjawab beberapa analisa psikologis dari suatu pandangan kekinian. Sekilas pandang yang dapat menjadi awal penjelasan dari pandangan pesimistis atau optimistis. Dari pandangan kreatif-imajinatif atau standar-praktis. Dan sekali lagi, semua penjelasan di atas lahir jika seorang yang melihatnya peduli untuk bertanya. Sebab pertanyaan adalah awal dari semua jawaban, jawaban awal dari pandangan dan pandangan awal dari keyakinan, demikianlah seterusnya. Jadi alangkah ironisnya, jika sekarang keyakinan malah sering diterima tanpa satu pun pertanyaan.

Lalu apa yang pertama terlintas dalam pikiran saya ketika melihat pensil patah. Terus terang tak banyak! Yang pertama terpikir adalah mencari rautan karena sekarang saya pun jadi punya dua pensil.