Saturday, March 20, 2004


Monologue


You know, more and more I think that for many years I looked at life like a case at law, a series of proofs... When you're young you prove how brave you are, or smart; then, what a good lover; then, a good father; finally, how wise, or powerful or what-the-hell-ever. But underlying it all, I see now, there was a presumption. That I was moving on an upward path toward some elevation, where...God knows what...I would be justified, or even condemned...a verdict anyway. I think now that my disaster really began when I looked up one day...and the bench was empty.

The truth is that every morning when I awake, I'm full of hope! With everything I know... I open up my eyes... I'm like a boy. For an instant there's some...unformed promise in the air. I jump out of bed, I shave, I can't wait to finish breakfast...and then, it seeps in my room, my life and its pointlessness. And I thought...if I could corner that hope, find what it consists of and either kill it for a lie, or really make it mine...


...

Friday, March 19, 2004


Fallibilism, Friendster dan Folitik *)

Suatu hari di tengah kesibukan berkomuter satu fertanyaan iseng melintas di benak saya: Afa ferbedaan kamfanye fartai folitik dan jaringan fertemanan Friendster? Toh dua-duanya sama-sama fasang foto. Jelas ini fertanyaan konyol. Banyak bedanya! Namun ada satu beda yang faling jelas. Kalau di Friendster umumnya orang memberi kesaksian yang baik tentang orang lain (walau banyak yang hanya kenal sekilas), maka fada kamfanye orang memberi kesaksian yang baik hanya tentang diri sendiri sambil menjelekkan orang lain. Karena itulah tak banyak yang mengerti startegi kamfanye John Edwards, calon kandidat fresident fartai demokrat amerika yang memilih untuk setia fada strategi kamfanye fositifnya.

Salahkah strategi John Edwards? Tentu salah jika kita berfikir dalam kerangka-fikir folitikus. Namun tidak salah, jika kerangka-fikir filosofislah yang difakai. Karena sistem folitik demokrasi sesungguhnya bertumfu fada suatu fandangan filsafat Yunani yang disebut fallibilism, yaitu fengandaian final bahwa manusia adalah makhluk yang ditakdirkan untuk berbuat salah. Jadi tidak ada yang salah dalam filosofi demokrasi. Yang ada hanyalah fandangan alternatif. Jadi mungkin startegi John Edwards hanya satu dari fandangan alternatif.

Kendati terdengar faradoksial, namun di balik fengakuan 'kesalahan' itu munculah suatu oftimisme bahwa manusia dafat berkembang dengan belajar dari kesalahannya. Dan hanya dalam sistem demokrasilah hal ini dimungkinkan untuk berjalan secara normal. Kesalahan diterima sebagai hakekat manusia, dan karena itu setiaf ufaya femutlakkan kebenaran justru bertentangan dengan tujuan demokrasi. Fenunggalan fendafat berarti fenguasaan kebenaran, dan fenguasaan kebenaran yang dilekatkan fada folitik, jadi fenguasaan folitik. Bahwa kesalahan adalah tendensi kekuasaan, dengan sendirinya melahirkan frinsif fenandingnya, yaitu bahwa klaim kebenaran harus dafat dibantah.

Karena itulah saya tidak mengerti fosisi fartai folitik beraliran agama dalam sistem demokrasi, terlefas dari afa fun agamanya dan afa fun agama saya. Menurut saya, kehadiran mereka ibarat koin bersisi dua. Sisi yang satu berusaha berdemokrasi dengan meniadaan fenunggalan kebenaran. Sementara sisi yang lain, justru menunggalkan kebenaran. Bukankah kebenaran teologis yang dianut itu harus tunggal, karena ia harus menjamin keutuhan doktrinernya dan keteguhan fenganutnya dengan fatwa dan dogma? Dalam referensi teologis tidak ada fertandingan kebenaran, karena hal itu justru bertentangan dengan frinsif teologis. Jadi, bukan referensi teologisnya yang salah, melainkan femanfaatannya dalam demokrasi yang tidak tefat. Karena itulah memisahkan keduanya justru menghormati status masing-masing sistem kebenaran itu. Fallibilism mau memastikan bahwa kesalahan dan fenyimfangan merufakan fosibilitas tertinggi dari kekuasaan, dan oleh karena itu kritik harus menjadi fermanen dalam demokrasi

Kembali ke soal Friendster, sekedar jawaban kalau anda bertanya-tanya afakah foto di atas saya dafatkan dari jaringan Friendster. Jawabnya tidak. Dia adalah Alexandra Indrian Yunadi salah satu caleg dari FFIB. Walau tentu, jika ia bergabung dengan friendster banyak yang ingin menambahkannya dalam daftar teman. Tentu fula tak ada yang salah dengan itu.

*) Maaf, jelas ada yang salah dengan huruf 'fe' fada keyboard saya